Monday, November 24, 2008

Cerpen

Pelajaran Dari Kolam Renang
Di suatu kota, ada seorang anak yang terkenal sombong. Anak itu bernama Marsella. Marsella, anak SMP 238 kelas satu. Ia, anak yang selalu juara kelas. Semua teman memujinya, kecuali Linsday dan kawan-kawannya. Sayangnya, Marsella menjadi besar kepala.
Marsella bisa merengut kesal bila pelajaran selesai dan ada tebakan temannya yang menjawab sama dengannya. Selain pintar, sombong, dia juga kaya. Ia menganggap dirinya bisa melakukan apa saja. Misalnya, membeli mainan, menganggap uang ibu dan bapaknya banyak, dan kesombongan lainnya.
Linsday adalah teman sekelas Marsella. Ia mempunyai kawan baik yang bernama Kanice, Julie, Kyra, dan Melissa. Mereka menamakan kelompok itu Lima Sekawan yang Tak Pernah Lepas. Ya, memang mereka adalah teman akrab. Kanice, Julie, Kyra dan Melissa memilih Linsday menjadi ketua keompok itu karena mereka merasa Linsday yang paling pintar di antara mereka. Linsday memang banyak akal-nya. Rumah mereka semua dekat dalam satu kompleks. Cuma beda blok dan besar kecilnya rumah. Rumah Marsella pun dekat dengan mereka.

Pagi hari di sekolah.
Linsday dan kawan-kawan sedang membuat rencana untuk member pelajaran pada Marsella agar tidak sombong. Mereka berpura-pura mengajak Marsella ke kolam renang Matoa di Ciganjur, agar tidak campur renangnya. Maksutnya, di Matoa ini renangnya dipisah antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dibatasi sampai jam tiga siang. Sedangkan laki-laki, dimulai dari jam empat sore sampai jam Sembilan malam.
“Marsella, kamu mau nggak ikut ke Matoa?” Tanya Linsday. “Untuk apa?” Marsella balik bertanya. “Ya, untuk berenang lah.” “Ah, gampang, aku sudah bisa berenang!” Ih, sombong banget, sih! kata Linsday dalam hati. Sebenarnya, Linsday kesal juga. Tapi, ia tidak marah demi melakukan siasatnya.
“Ya udah, sepulang sekolah kita berangkat bareng!” kata Linsday. “Oke!” jawab Marsella.

Pelajaran pertama adalah bahasa Inggris, yang diajari oleh Bu Cilena. Ia sangat baik dan sabar. Ia juga sangat cantik. Pada akhir pelajaran, ada tebakan ..., “Apa bahasa Inggrisnya ... pensil?” kata Bu Celina memberi tebakan kepada anak-anak. “Pencil, Bu!” jawab Linsday, Julie, Kanice, Melissa, Kyra, dan Marsella serempak.
“Betul! Linsday, Julie, Kanice, Melissa, Kyra dan Marsella, kalian mendapat nilai,” Bu Cilena menanggapi jawaban mereka dengan senyuman manis.
“Asyik ...!” seru Linsday, Julie, Kanice, Kyra, dan Melissa. Marsella? Ia tidak senang karena ada yang menjawab sama seperti dirinya. Uh, kenapa kok, mereka bisa sama jawabannya denganku, kata Marsella dalam hati sambil merengut kesal.

Tiba-tiba ...
Teng! Teng! Teng! bel istirahat berbunyi.
“Anak-anak, pelajaran kita sampai di sini dulu. Assalamu’alaikum ...,” kata Bu Cilena mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam ...,” anak-anak membalas salam Bu Cilena.

Sepulang sekolah ...
“Hai, Marsella! Jadi nggak berenangnya?” teriak Julie lantang mengingatkan Marsella akan janjinya. “Ya ... aku ingat!” jawab Marsella dengan nada agak benci karena pelajaran tadi. “Entar kamu naik mobilku saja, ya! Kamu ke rumah dulu, ganti baju, bawa baju renang, baru kita berangkat,” kata Julie panjang lebar. “O, iya jangan lupa bawa makanannya dan kita kumpul di rumahku aja, ya! Juga uang untuk bayar tiket masuk,” lanjut Julie sambil berpura-pura ramah.

Setelah Marsella pergi ...
“Suaramu tadi, benar-benar ramah!” kata Kyra kagum pada Julie. “Terima kasih,” jawab Julie. Julie memang ikut ekskul teater di sekolah. Karenna itu, suaranya bagus. Julie juga bisa bermain peran. Dulu, waktu lomba drama, Empat Sekawan yang Tak Pernah Lepas, menang. Dinamakan Empat Sekawan karena dulu belum ada Kyra. Kyra memang murid baru di sekolah SMP 238. Ia pindahan dari kota lain. Tapi, Kyra sudah menganggap teman-temannya sahabat yang tak pernah lepas.

Sepulang sekolah, sesuai rencana, mereka berlima sudah berkumpul di rumah Julie. Dalam perjalanan, Marsella masih merengut kesal.
Perjalanan dari rumah Julie ke Matoa memang jauh. Karena itu, mereka menghabiskan perjalanan dengan mengobrol dan melakukan permainan. Linsday tidak banyak ngomong dan bermain. Ia hanya ngomong bila jalan macet. Sementara, Marsella menghabiskan waktu dengan membaca bukunya yang lucu. Dengan kekesalannya pada Linsday, Kanice, Kyra, Melissa, dan Julie. Malah, ia berkenan meminjamkan bukunya pada mereka.

Tak terasa sudah satu jam dan ... akhirnya mereka sampai di Matoa!
Suasana di sana riuh sekali. Mereka berenam membayar tiket masuk. Harga tiket masuk tidak terlalu mahal. Setelah membayar, mereka masuk ke tempat kolam renang. Tempat membayar dan berenang memang lain. Tapi, tidak terlalu jauh. Hanya di dekat tempat membayar, ada kain. Di belakang kain itu setelah dibuka, ada dua kolam renang. Yang satu tinggi airnya sedang, dan yang satu lagi dalam. Di tempat yang kolam renangnya dalam, ada satu kolam renang yang paling dalam lagi dibatasi dengan tali.

“Ayo, kita berenang!” kata Kanice bersemangat. “Iya, aku udah nggak sabar nih!” Melissa mengiyakan. “Eh, kita kan, belum ganti baju!” sela Linsday. “O, iya, aku lupa,” kata Kanice. “Kita harus ganti baju di mana?” Tanya Kyra. “Mendingan kita Tanya sama petugasnya aja!” kata Marsella ikut bicara. “Wah kamu memang pintar!” kata Kyra. “Iya dong, aku kan, murid terpandai di sekolah!” kata Marsella menyombongkan diri. “Ih, kamu sombong banget!” ucap Kyra tegas. “Aku tidak sombong! Tapi, memang kamu yang telmi! Ulanganmu saja, nilainya jelek!” ejek Marsella tak mau kalah. “Kamu kali yang telmi!” balas Kyra.
Akhirnya, terjadi adu mulu. Tapi, tiba-tiba Linsday mengedipkan mata kepada Kyra. Maksutnya, mengingatkan pada rencana mereka semula. Karenna diingatkan, Kyra langsung berkata kepada Marsella, “Ya, memang kamu yang paling pintar di sekolah!” “Berarti kamu telmi,” kata Marsella. “Iya deh” jawab Kyra. “Ayo, cepat kita ke tempat ganti baju,” potong Julie. “Ayo!” kata mereka serempak.

Di tempat ganti baju. Linsday dan Julie, juga teman-temannya memakai baju renang yang tertutup, tidak kelihatan auratnya. Heran ya, baju renang kok tertutup? Jangan heran lagi, itu kan sudah biasa. Baju renang ini modelnya seperti baju muslimah lengkap dengan jilbabnya. Bahannya dari parasut agar tidak berat ketika kita masuk ke air. Bentuknya celana panjang, bajunya juga baju lengan panjang. Di dalam jilbab parasut itu, ada tali kain agar saat renang tidak copot. Tali itu diikatkan pada telinga. Kecuali Marsella yang sok sombong, saat teman-temannya memakai baju renang itu, ia meledek katanya teman-temannya seperti hantu.
“Hahaha ... baju renang kalian seperti hantu. Apa-apaan sih, tuh baju. Kayak kampungan aja ...! Baju renang itu, kayak bajuku ini, tidak seperti baju kalian yang ketinggalan zaman itu,” ledek Marsella. “Iya, ini baju renang kesukaan kami. Kami pakai baju renang kayak gini agar tidak kelihatan auratnya. Di kolam renang, kan, banyak orang macam-macam. Kamu tidak tahu, ya?” kata Linsday dengan bangga. “Aku tahu!” bentak Marsella sambil mendengus. “Sudahlah .. kamu mau pakai baju renang kayak gitu, ya terserah. Kami mau pakai baju renang kayak gini, ya juga terserah kami. Ayoloh cepat kita segera ke kolam renang, aku tidak sabar lagi! kata Melissa menengahi sambil menarik tangan mereka.
Selain Marsella, Lima Sekawan yang Tak Pernah Lepas itu semuanya memang memakai jilbab ke mana pun mereka pergi dan di mana pun mereka berada. Jadi, mereka enggak melepas jilbabnya meskipun di kolam renang.

Di kolam renang.
Marsella yang sok sombong langsung nyemplung ke kolam yang paling dalam .Ia lupa bahwa dirinya sudah tidak pernah latihan sejak kemenangan renang di sekolah waktu kelas satu SD dulu, kira-kira enam tahun yang lalu. Sementara yang lainnya sedang berolahraga. Pemanasan, agar tidak kram. Karenna melihat Marsella yang langsung nyemplung, Melissa mengingatkan, “Kok, kamu langsung nyemplung sih? Nanti kamu kram, lho!” “Ah, ngapain. Aku kan, perenang hebat! Aku pernah juara renang saat kelas satu SD, kata Marsella sambil terus berenang. “Ya udah, aku gak maksa kok,” kata Melissa.

Tiba-tiba .....
“Aduh, sakit ..!” teriak Marsella. Ia kram akibat belum pemanasan. Ia langsung tenggelam. Alhamdulillah, Linsday, Julie, Kyra, Melissa, dan Kanice tahu kejadian itu. Mereka bergegas menghampiri Marsella. Tanpa pikir panjang, mereka langsun nyebur ke dalam kolam renang. Tangan Marsella ditarik Lima Sekawan dan diseret ke pinggir kolam.
Sebenarnya mereka kasihan juga, tapi tidak ada pilihan lain, Linsday dan kawan-kawannya tertawa dalam hati. Mereka awalnya berencana ingin menarik kaki Marsella dari dalam kolam, tapi penderitaan ini sudah cukup untuk Marsella. Akhirnya, bila Marsella diajak teman-temannya renang, ia tak berani lagi sombong. Ia sudah kapok dan malu.

No comments: